ANCAMAN KHUSUS PEMAKAN RIBA

(Hikmah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW)

Perjalanan isra’ wal mi’raj Nabi Muhammad Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wa Shohbihi Wa Salam adalah peristiwa yang nyata yang tidak boleh diingkari dan diragukan sedikitpun termasuk kejadian-kejadian didalamnya bagi seorang muslim. Sebab peristiwa itu adalah bentuk kekuasaan Allah SWT. Pada malam isra’ wal mi’raj Nabi Muhammad di perjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram hingga Masjidil Aqsa kemudian hingga ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalan tersebut Nabi Muhammad Nabi Shallallahu ‘Alaihi WaAalihi Wa Shohbihi Wa Salam menyaksikan banyak hal termasuk keadaan umatnya dengan berbagai kenikmatan dan siksaan sesuai dengan balasan atas amal-amal yang mereka lakukan baik maupun buruk.

Di perjalanan Nabi Shallallahu ‘Alaihi WaAalihi Wa Shohbihi Wa Salam menyaksikan seorang laki-laki berenang di sungai darah sambil dirajam dan dilempari dengan batu. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi waaalihi washohbihi wasalam berkata,“Apa ini wahaiJ ibril?”Jibril berkata,“ini adalah perumpamaan orang yang memakan riba.”

Kejadian yang di saksikanoleh Nabi Muhammad Nabi Shallallahu ‘Alaihi WaAalihi Wa Salam ketika perjalanan ke Masjidil Aqsa, ketika masih didunia Nabi Nabi Shallallahu ‘Alaihi WaAalihi WaSalam sudah diperlihatkan balasan bagi orang pemakan riba, hal ini menandakan bahwa dosa tersebut sangatlah berat.

Di perjalanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa salam menyaksikan sekelompok kaum yang perut mereka sangat besar bagaikan rumah, di dalam perut mereka ular-ular ganas mencabik lambung mereka yang terlihat dari luar perut mereka. Setiap kali salah seorang dari mereka mencoba bangkit berdiri, maka dia selalu tersungkur jatuh dan seraya berkata, “Ya allah jangan datangkan hari kiamat ”. Mereka mengikuti jalannya fir’aun dan pengikutnya, dan mereka diinjak-injak oleh setiap yang melalui mereka. Mereka menjerit dan merintih kepada Allah. Maka Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shohbihi wa salam bertanya, “WahaiJibril siapa merekaitu ?” Jibril menjawab, “merekaitu sebagian dari umatmu yang melakukan praktek riba dan memakan harta riba, mereka tidak berdiri melaikan bagaikan orang yang kesurupan setan.”

Inilah hal yang disaksikanoleh Nabi Muhammad Nabi Shallallahu ‘Alaihi WaAalihi Wa Salam Ketika dilangit pertama, sungguh Allah SWT telah memperlihatkan betapa beratnya balasan bagi pemakan riba, hingga Allah SWT memperlihatkannya kepada Nabi Muhammad Nabi Shallallahu ‘Alaihi WaAalihi WaSalam dua kali dalam satu perjalanan agung yaitu isra’ mi’raj. Semoga Allah menggolongkan kita orang yang terjaga dari riba beserta transaksi-transaksinya.


By Muhammad (Marketing Griya Alden)
0853-3545-7351

ANCAMAN KHUSUS PEMAKAN RIBA

2 gagasan untuk “ANCAMAN KHUSUS PEMAKAN RIBA

  • . pukul .
    Permalink

    Amadanom, Dampit, Malang
    Desa Amadanom

    Negara Indonesia
    Provinsi Jawa Timur
    Kabupaten Malang
    Kecamatan Dampit
    Kodepos 65181
    Luas … km²
    Jumlah penduduk … jiwa
    Kepadatan … jiwa/km²

    Amadanom adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Tidak ada data atau referensi yang akurat tentang sejarah asal usul berdirinya Desa amadanom .Menurut cerita yang beredar di masyarakat ,ada dua versi yang kesemuanya mempunyai kisah sendiri – sendiri , adapun urutan cerita tersebut sebagai berikut: versi pertama: konon dalam cerita sejarah , Amadanom berasal dari kata AMAD dan ANOM, yang artinya; AMAD: adalah nama seseorang yang pertama kali mejejakkan kakinya di desa amadanom atau biasa disebut yang babat alas Desa Amadanom, sedangkan ANOM yang berarti muda. Amadanom sendiri mempunyai arti AMAD yang matinya masih MUDA(anom). Menurut cerita terdahulu, AMAD atau yang biasa di sebut mbah AMAD DRA’IS berasal dari daerah jawa tengah yang konon ceritanya dia adalah seorang prajurit dari pangeran diponegoro yang mengembara ke daerah dampit bersama dengan ke 4 temannya yang salah satu namanya adalah mbah dono dan mereka membuka perkampungan baru di desa amadanom, mbah AMAD dan mbah DONO bersama ke 3 temannya akhirnya tinggal di desa amadanom. anak, cucu dan keturunan dari kelima orang tersebut kebanyakan menjadi penduduk asli desa amadanom sampai sekarang. versi kedua:konon ceritanya nama amadanom diambil langsung dari kata amad dra’is,dan tidak dari kata AMAD dan ANOM yang artinya AMAD yang meninggalNya masih ANOM (muda) dari cerita versi dua ini mbah amad dra’is diceritakan tidak meninggal di usia muda, melainkan meninggal di usia tua. tetapi sampai sekarang belum ada yang mengetahui mana cerita yang lebih akurat. sampai sekarang untuk mengenang jasa jasa dia setiap bulan asyuro di adakan selamatan bersih deso. sebagian penduduk kebanyakan bekerja sebagai petani, berkebun, dan, berternak

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *